Tuesday, December 19, 2006

Agama zonder Sejarah

Agama tanpa sejarah. Bagaimana kehidupan keagamaan Anda jika sejarah agama dihapuskan? Dapatkah seorang Hindu beragama tanpa Maharesi terdahulu yang menerima wahyu (sruti) Weda? Tanpa perang Bharata Yudha yang kemudian melahirkan Bhagawad Gita?
Tidak ada yang mengetahui awal dari sejarah agama Hindu. Ada yang mengatakan, agama ini dimulai sejak 3000 tahun SM, 6000 SM dstnya. Secara umum ia diketahui berasal dari Sindhu, nama sebuah sungai yang membelah dataran Indus. Sementara penduduk asli lebih mengenalnya dengan nama Dharma, Sanathana Dharma atau kebenaran abadi. Orang-orang barat banyak yang tidak mengetahui bahwa ia hukum hidup yang terus tumbuh dan berkembang. Ajarannya melewati agama doktrinal. Apakah saya seorang penganut polytheisme, percaya satu dewata, percaya ataupun tidak percaya moksha, meyakini semua prinsip atau hanya hanya satu, saya tetap seorang Hindu. Tidak lebih, tidak kurang.
Hinduisme, demikian kemudian dikenal, adalah way of life, jalan hidup, agama tertua yang tetap bertahan dan hidup berdampingan dengan agama-agama yang datang belakangan.
Pemeluk ajaran Dharma, meyakini agama Hindu tidak berawal dan tidak berujung. Ia ada untuk selamanya. Terlepas dari semua catatan sejarah yang telah terjadi, yang diyakini terjadi, agama Hindu tetap ada untuk masa sekarang, dan juga masa depan. Sebagai Dharma yang melintasi ruang dan waktu, ia tidak memikul beban sejarah sepanjang hidupnya. Ia tidak bergantung kepada sosok seorang Maharesi, manusia historis, atau kitab historis apapun. Hindu akan tetap hidup bersama para Maharesi di jaman modern ini, memiliki Weda sebagaimana ia diwahyukan pada masa-masa lalu.
Rajiv Malhotra, seorang intelektual Hindu memiliki pengalaman pribadi tentang hal serupa dengan para pemeluk agama-agama berbeda. Ia melontarkan pemikiran paham berpusat sejarah dan paham tidak berpusat sejarah. Komunitas Muslim yang kita temui mungkin mengatakan tidak akan ada agama Islam tanpa kehadiran Muhammad ke dunia, sebagaimana Kristen tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa pengorbanan Kristus. Rajiv menggolongkan ini sebagai paham berpusat sejarah.
Sejarah, adalah pengamatan tentang masa lalu dilakukan pada saat sekarang untuk kebaikan di masa depan. Fosil, ilmu pengetahuan dapat menjadi objeknya. Tetapi dalam sebuah keyakinan, khususnya Hindu, ia berbeda. Seorang pemeluk agama Hindu akan merasa beruntung karena ia memiliki sejarah yang panjang di masa lalu, bersama tokoh-tokohnya, tattwa, susila, upakara tanpa sedikitpun mengurangi penghargaan kepada para Guru yang masih hidup. Hindu bukan cuman sebagai obyek tetapi juga dapat menjadi subjek sejarah, sebagaimana para pemeluknya percaya, setiap orang bisa mencapai pencerahan di kehidupan ini dan berperan lebih dalam mengubah sejarah.
Ada seorang manusia yang menderita hilang ingatan, amnesia, akibat kecelakaan. Ia berumur 19 tahun. Tak dapat mengingat keluarga, pelajaran, dan semua masa lalunya, ia kemudian dihadapkan pada sebuah kenyataan yang sepenuhnya asing. Apakah ia masih manusia? Jika iya, mungkinkah baginya untuk menulis sejarah hidupnya kembali?
Kita bangga memiliki tokoh-tokoh di masa lalu antara lain: Badarayana, Jaimini, Gautama, Kanada, Patanjali, Sankara, Ramanuja, Ramakrishna, Vivekananda, Sri Aurobindi, Mahatma Gandhi, sebagaimana kita bersyukur saat ini memiliki para guru seperti : Tejomayananda, Dada Vaswani, Sai Baba, Shri Ramesh Bhai Oza, dsbnya. Tidak ada satupun dari mereka yang memegang otoritas atas agama Hindu dan mengabaikan yang lainnya.
Para guru, swami, yang masih hidup adalah teks hidup. Kita dapat belajar sejarah dan kehidupan yang baik dari mereka. Sampai akhirnya, kitapun dapat menulis sejarah sendiri.
Sejarah pada akhirnya menjadi sesuatu yang baik untuk dimiliki, tanpa keharusan memilikinya. Hindu akan tetap Hindu, meskipun sejarah dan buku-buku tentangnya hilang ataupun dihilangkan.
Demikianlah, Hindu paham tidak berpusat sejarah.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home

Google